Klinik Trinity Medika Jakarta Pusat

Just another Blog In Harmony Clinic Sites site

Home » 2013 » November

Pentingnya Vaksinasi Yellow Fever

Yellow fever merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus yang ditransmisi melalui nyamuk yang banyak menyebabkan kematian. Penyakit ini banyak terdapat di daerah Afrika dan Amerika Tengah dan Amerika Selatan. Penyakit ini menyebar secara cepat melalui gigitan nyamuk yang terinfeksi dan tidak dapat menular langsung dari orang ke orang.

Orang yang terinfeksi penyakit ini umumnya memerlukan perawatan. Gejala yellow fever umumnya terjadi demam, kuning pada kulit dan mata, perdarahan dari beberapa bagian tubuh dan sering terjadinya kegagalan organ seperti hati, ginjal dan paru-paru, bahkan pada 20-50% kasus terjadi kematian.

Dari seluruh kasus yang terjadi, 90% nya terjadi di Afrika. Transmisi di Afrika terutama disebabkan karena tingginya populasi nyamuk pembawa virus tersebut dan tingginya populasi manusia yang tidak di vaksin di daerah tersebut.

Di Amerika Seltan, angka kejadian yellow fever lebih sedikit dibandingkan dengan di Afrika, karena tingginya angka vaksinasi pada populasi di Amerika Selatan, sehingga banyak populasi yang terlindungi dari penyakit ini.

Vaksinasi yellow fever secara signifikan mengurangi angka kejadian yellow fever diseluruh muka bumi. Efektifitas vaksin tersebut memberikan 80-90% perlindungan dari yellow fever, dan mampu melindungi selama 10 tahun.

Bagi para wisatawan atau pekerja sementara yang berada di akan berkunjung ke Afrika atau Amerika Selatan sangat disarankan untuk mendapatkan perlindungan vaksinasi ini. Mengapa? Karena angka infeksi yellow fever di Afrika sangat tinggi, sehingga jika para pengunjung yang saat itu sedang memiliki daya tahan tubuh yang rendah, memudahkan untuk terkena infeksi yellow fever, dan akan sangat membahayakan jika virus tersebut masih berada dalam tubuh dan terbawa pulang ke Indonesia sehingga menularkan terhadap saudara tau sekitar rumah lainnya.

Vaksinasi Pneumonia untuk Lansia Sehat

Lansia atau yang sering dikenal dengan nama lanjut usia, merupakan golongan orang yang berusia diatas 60
tahun merupakan golongan usia yang sangat rentan terkena berbagai macam penyakit. Lansia umumnya disertai dengan penyakit kronis lainnya, sehingga daya tahan tubuh akan semakin menurun.

Salah satu penyakit yang sering menyerang pada usia lanjut dan terutama pada lansia dengan penyakit kronisdan penggunaan antibiotik jangka panjang adalah pneumonia. Penumonia merupakan penyakit yang menyerang
saluran pernafasan. Pneumonia umumnya disebabkan oleh bakteri, virus, jamur atau parasit. Bakteri yang
banyak menyebabkan penyakit ini adalah bakteri streptococcus dan mycoplasma pneumonia.

Gejala yang terjadi umumnya adalah batuk, demam, menggigil, nyeri dada, sesak napas, lemah dan mual.
Penyakit ini dapat menyerang semua usia dan dapat menyebabkan kematian. Penyakit ini merupakan penyebab
kematian tertinggi pada lansia,terutama lansia dengan penyakit kronis lainnya, lansia dengan kondisi tirah baring lama, pemasangan alat dan lansia dengan konsumsi antibiotik dalam jangka waktu lama.

Bagaimana cara pencegahannya?

Pencegahan dapat dilakukan dengan vaksinasi, yang berfungsi untuk merangsang sistem kekebalan tubuh untuk membantu mencegah infeksi pneumonia dan komplikasi yang diakibatkan oleh pneumonia.

Vaksinasi diberikan sebanyak 2 x. Vaksinasi PCV 13 yang dilanjutkan dengan vaksinasi PPSV23 dengan jeda selama minimal 8 minggu. Jika sudah pernah mendapatkan vaksin PPSV23 sebaiknya berikan vaksinasi PCV 13
dengan jeda minimal 1 tahun.

Konsultasikan dengan dokter anda untuk keterangan lebih lanjut

Hubungi : Klinik Trinity Medika

Kompleks Ruko Hotel Ibis Mangga Dua

Jalan Pangeran Jayakarta blok E1 no. 12

Jakarta Pusat 10730. Indonesia

Phone             : (021) 6121888

Fax                  : (021) 6288395

Email               : enquiries@trinitymedika.com

Fans page fb    : Trinity Medika

Twitter            : @Trinity_Medika

Apa itu KIPI?

Imunisasi merupakan upaya pencegahan penyakit infeksi menuju masa depan anak yang lebih sehat. Peningkatan pemberian imunisasi harus diikuti dengan peningkatan efektifitas dan keamanan vaksin. Walaupun demikian, peningkatan penggunaan vaksin akan meningkatkan pula KIPI.

Apa itu KIPI? KIPI adalah singkatan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi, yaitu suatu kejadian medis, yang terjadi beberapa saat, setelah orang tersebut diberikan imunisasi atau vaksinasi. Kejadian ini bisa ada kaitan dengan tindakan vasinasi tersebut, tapi bisa juga tidak ada kaitan sama sekali, hanya terjadinya secara kebetulan saja.

Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi yang mungkin terjadi dengan pemberian vaksin atau imunisasi:
a. Reaksi lokal.
Yaitu reaksi yang terjadi segera setelah penyuntikan vaksin, dan pada daerah / tempat dimana vaksin disuntikkan, bisa berupa:
- kulit yang menjadi kemerahan
- tempat suntikan teraba lebih hangat, dan ada rasa nyeri
- teraba benjolan bawah kulit ditempat suntikan
- bengkak ditempat suntikan vaksin atau adanya selulitis
- kemungkinan terjadi abses bawah kulit ditempat suntikan
b. Reaksi terhadap Saraf
- Ensefalopati
- Ensefalitis
- Meningitis / radang selaput otak
- Kejang
- Kelumpuhan saraf
c. Reaksi Sistemik.
Yaitu suatu reaksi yang terjadi beberapa saat setelah pemberian vaksin atau imunisasi, bisa berupa :
- demam, yang biasanya sekitar 38.8 derajat Celsisu, dan kasus yang lebih jarang bisa lebih tinggi dari 38.8 derajat Celsius
- sakit kepala
- nyeri otot atau rasa lemah / artralgia
- bayi menangis terus menerus tidak mau berhenti
- rasa mual, muntah dan diare
- reaksi alergi, dari reaksi alergi ringan hingga yang serius, seperti urtikaria sampai shock anafilaktik
Efek samping vaksin bukan merupakan kejadian yang terjadi setiap hari atau pasti terjadi jika kita melakukan vaksinasi. Namun efek samping harus tetap kita sebutkan kepada pasien atau orang tua agar mengetahui efek samping yang mungkin terjadi. Pada anak, KIPI yang paling serius adalah reaksi anafilaksis. Kasus anafilaksis terjadi hanya 1-3 kasus di antara 1 juta dosis. Anak besar dan dewasa lebih banyak mengalami sinkope, segera atau lambat.