Klinik Trinity Medika Jakarta Pusat

Just another Blog In Harmony Clinic Sites site

Home » 2013 » December

Influenza pada Wanita Hamil

Siapa yang tidak pernah terserang influenza? Tentunya semua orang pernah terserang influenza. Influenza sendiri merupakan penyakit dengan sangat mudah menular, terutama pada orang yang bekerja di dalam ruangan tertutup. Tak terkecuali dengan ibu hamil, mereka merupakan kelompok yang rentan terkena influenza.

Umumnya influenza tidak berbahaya dan mudah sembuh, namun pada wanita hamil daya tahan tubuh sangat rendah sehingga menyebabkan penyakit influenza saja sudah cukup berbahaya bagi kehamilan mereka. Wanita hamil memiliki resiko morbiditas dan mortalitas yang tinggi akibat influenza. Pada ibu dengan influenza pada kehamilan, rentan lahir bayi prematur atau dengan bobot bayi rendah. Selain itu wanita hamil yang terserang influenza akan lebih mungkin mengalami komplikasi berat sehubungan dengan influenzanya. Wanita hamil yang terkena influenza lebih cenderung mengalami komplikasi dan membutuhkan perawatan intensif di rumah sakit, terutama pada kehamilan trimester ke tiga.

Bagaimana caranya agar ibu hamil tidak gampang tertular influenza? Yang terutama adalah menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh, sehingga daya tahan tubuh meningkat dan tubuh menjadi lebih kebal terhadap infeksi influenza. Selain itu dapat dilakukan beberapa hal seperti : menghindari kontak dengan penderita influenza, menjaga kebersihan diri sehingga terlindung dari infeksi kuman penyakit, dan perbanyak makanan bergizi untuk memberikan imunitas pada tubuh.

Dari semua hal diatas terdapat pula cara pencegahan yang efektif, yaitu dengan melakukan vaksinasi influenza. Vaksinasi influenza terbukti mengurangi resiko influenza beserta komplikasinya selama masa kehamilan sampai bayi lahir berusia 6 bulan.

Ibu hamil yang beresiko tinggi disarankan untuk diberikan vaksinasi influenza, tanpa melihat usia kehamilan. Walaupun vaksin influenza merupakan vaksinasi yang aman diberikan pada wanita hamil, disarankan sebaiknya untuk berkonsulatsi terlebih dahulu dengan dokter sebelum mendapatkan vaksinasi ini.

Vaksinasi influenza merupakan vaksinasi yang aman diberikan pada seluruh golongan dan sangat disarankan untuk diberikan pada seluruh golongan. Pemberian vaksinasi ini sebanyak 1 dosis dan diulang setiap tahunnya, untuk memberikan kekebalan tubuh yang maksimal.

 

Mengenal Vaksinasi DPT

Apa sih sebenarnya vaksinasi DPT itu? Sering bukan kita mendengar bahwa vaksin DPT diberikan pada bayi yang baru lahir. Apa gunanya pemberian vaksinasi ini? Perlukah vaksinasi ini di ulang?

Vaksinasi DPT (difteri, pertusis dan tetanus) berfungsi untuk mencegah ketiga penyakit tersebut.

Difteri merupakan penyakit yang disebabkan bakteri Corynebacterium diphteriae, yang sifatnya sangat ganas. Penularan terjadi melalui percikan ludah yang mengandung bakteri Corynebacterium diphteriae waktu penderita batuk atau bersin. Setelah 3-4 hari akan terjadi nyeri tenggorokan, demam dan tampak lemah, serta terdapat selaput putih kelabu yang mudah berdarah di tenggorokan dan kerongkongan. Selaput dapat menutup jalan napas, sehingga terdengar suara napas mengorok, anak menjadi sesak dan tidak dapat bernapas. Selain itu bakteri ini dapat melepaskan racun yang menyebabkan kerusakan jantung dan saraf. Di Indonesia sendiri telah terjadi penurunan angka KLB namun angka kejadian dan angka kematian masih tetap tinggi. Angka kematian akibat difteri masih 5-10% dari total kejadian.

Pertusis atau yang lebih dikenal dengan nama batuk rejan atau batuk 100 hari, disebabkan oleh Bordetella Pertussis. Bakteri ini ditularkan melalui percikan ludah sewaktu penderita batuk. Batuk awalnya ringan, lalu menjadi sering, berturutan tanpa sempat mengambil nafas dan diakhiri tarikan napas panjang serta bunyi mendesing (whoop). Karena sangat sulit menarik napas saat batuk, menyebabkan anak sering menjadi biru, keluar air mata, air seni dan mata menjadi merah. Sering pula disertai dengan muntah. Pertusis sendiri dapat penyebabkan kerusakan permanen pada susuanan saraf dan dapat menyebabkan kematian.

Tetanus merupakan penyakit yang disebakan oleh tetanospasmin, yaitu sejenis neurotoksin yang diproduksi oleh Clostridium tetani yang menginfeksi sistem urat saraf dan otot sehingga saraf dan otot menjadi kaku (rigid). Bakteri tetanus masuk melalui luka dalam dan kotor, gigi berlubang atau infeksi telinga disertai keluarnya nanah. Gejala awal berupa kekakuan mulut, leher, punggung, dada, perut dan anggota gerak. Mulut tidak dapat dibuka. Kekakuan yang hebat terlihat sebagai kejang-kejang tanpa disertai penurunan kesadaran. Seringkali terjadi kematian. Pada bayi yang baru lahir sering terjadi tetanus neonatorum yang diakibatkan infeksi yang terjadi melalui tali pusat yang dipotong dengan menggunakan alat-alat yang tidak steril dan perawatan tali pusat yang buruk. Data WHO menunjukkan kematian akibat tetanus di negara berkembang 135x lebih tinggi dibandingkan negara maju. Dari seluruh kematian neonatal, sekitar 42% kematian neonatal disebabkan oleh infeksi tetanus neonatorum.

Vaksin DTP

Vaksin ini terdiri dari komponen D dan T yang dibuat dari toxoid, semacam racun kuman yang dirubah sifatnya sehingga dapat menimbulkan kekebalan tetapi tidak ganas, tidak dapat menimbulkan penyakit, dan tidak menyebabkan efek samping yang berarti.

Sedangkan komponen P atau pertusis, terdapat dua macam komponen P. Yang pertama terbuat dari seluruh sel mati yang disebut sebagai wP (whole-cell Pertussis), sedangkan yang kedua terbuat dari sebagian sel pertusis disebut sebagai aP (acellular Pertussis). Jadi ada 2 macam vaksin DTP yaitu DTwP/DT-whole-cell Pertusis dan DTaP/DT-acellular Pertusis.

Vaksinasi DTwP sangat murah dan efektif, tetapi sering menyebabkan efek samping berupa demam, kemerahan, bengkak dan nyeri pada tempat suntikan. Beberapa anak menjadi biru dan syok setelah disuntik. Untuk menghindari efek samping tersebut, dibuatlah vaksin DTaP. DtaP merupakan vaksinasi yang berisi ribuan antigen yang hanya diperlukan oleh tubuh, sehingga efek sampingnya berkurang 75%. DTaP sangat jarang menyebabkan demam atau efek samping lainnya.

Pemberian vaksinasi DtaP ini pada usia 2,4,6 dan 18 bulan. Kemudian diulang saat berusia 5 tahun. Dan pada usia 12 tahun terdapat pengulangan dalam bentuk DT saja. Pengulangan berfungsi untuk mempertahankan dan meningkatkan kekebalan.

Perlu diketahui bahwa pada bayi lebih aman diberikan suntikan DtaP dibandingkan dengan DTwP karena pada suntikan DTwP sebelumnya banyak dijumpai efek samping bayi menjadi biru, lemas, kejang dan tidak jaang terjadi penurunan kesadaran.

Efektivitas vaksin DTwP kira-kira 85-95%, sedangkan DTaP sekitar 75-90%. Namun efektivitas bukan satu-satunya pertimbangan dalam memberikan vaksin. Efek samping, dan harga juga merupakan pertimbangan. Vaksin DTwP sangat murah tetapi sering menyebabkan efek samping, sedangkan DTaP jarang menyebabkan efek samping tetapi mahal.

Seberapa Pentingnya Vaksinasi Pada Remaja

Vaksinasi pada remaja merupakan hal yang penting dalam upaya pemeliharaan kekebalan tubuh tehadap berbagai macam penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri, virus maupun parasit dalam kehidupan menuju dewasa. Vaksinasi pada remaja ini diperlukan mengingat imunitas yang mereka peroleh sebelumnya dari pemberian vaksinasi lengkap sewaktu masa bayi dan anak-anak tidak dapat bertahan seumur hidup. Selain itu, tingginya angka kematian penyakit serius yang dapat terjadi pada usia remaja yang membuat pentingnya vaksinasi pada remaja (misalnya: kanker serviks sehubungan dengan infeksi HPV yang meningkat pada remaja wanita).

Rekomedasi yang saat ini ada diberikan melalui Advirsory Committee on Immunization Practices (ACIP), dan mengadopsi rekomendasi dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) berkolaborasi dengan American Academy of Pediatric dan American Academy of Family Physicians dan organisasi-organisasi profesional lainnya.

Vaksinasi pada Remaja

Usia sekolah dan remaja merupakan kurun waktu dimana dapat terjadi paparan lingkungan yang luas dan beraneka ragam. Vaksinasi yang diberikan terdapat dua macam, vaksinasi ulangan (booster) dan vaksinasi yang memang diberikan untuk pencegahan terhadap penyakit pada remaja. Vaksinasi ulang (booster) untuk hampir semua jenis vaksinasi dasar pada usia lebih dini, diantaranya; hepatitis B, polio, varisela, hepatitis A, difteri dan tetanus (DT), pneumokokus, rubela, campak dan gondongan. Vaksinasi untuk pencegahan penyakit yang sering menyerang pada usia remaja, yaitu: HPV, Influenza.

Vaksinasi Remaja yang dianjurkan:

1. Tetanus and diphtheria toxoids vaccine (Td) dan vaksin Tetanus and diphtheriatoxoids acellular pertussis (Tdap).

Pemberian vaksinasi ini pada usia 11-18 tahun dengan dosis tunggal Tdap. Sering pula diberikan pada ibu yang sedang hamil untuk mecegah pertusis pada anak yang dilahirkan.

2. Vaksin Influenza

Diberikan 1x sejak umur 6 bulan dan diulang setiap tahunnya. Vaksinasi jenis ini tergolong aman dan jarang memberikan efek samping.

3. Vaksin Human papillomavirus (HPV)

Vaksin HPV berfungsi untuk mecegah terjadinya infeksi HPV dengan tujuan mengurangi angka morbiditas dan mortalitas yang berhubungan dengan infeksi HPV genitalia. Terdapat 2 jenis vaksin HPV yaitu vaksin bivalen (tipe 16 dan 18) dan vaksin quadrivalen (tipe 6, 11, 16 dan 18). Vaksin bivalen berfungsi untuk mencegah terjadinya kanker serviks dan umumnya diberikan pada remaja perempuan dan vaksin quadrivalen diberikan untuk mencegah terjadinya kanker serviks dan kutil kelamin, sehingga dapat diberikan pada remaja laki-laki dan perempuan. Vaksin ini mempunyai efikasi 96-100% untuk mencegah kanker leher rahim yang disebabkan oleh HPV tipe 16/18.

Rekomendasi pemberian vaksinasi HPV pada remaja pada usia 9-13 tahun. Dengan dosis 3 x pada bulan ke 0, 1atau 2 dan bulan ke 6.

4. Vaksin Hepatitis A (HepA)

Vaksinasi hepatitis A diberikan mulai usia ≥ 2 tahun. Pemberian vaksinasi ini sebanyak 2 dosis pada bulan ke 0 dan bulan ke 6. Vaksinasi ini penting diberikan pada remaja karena penularan hepatitis A yang berasal dari makanan yang dimakan, sehingga remaja sangat rentan terserang hepatitis A.

5. Vaksin Hepatitis B (HepB)

Vaksin hepatitis B diberikan sebanyak 3 dosis dengan interval yang direkomendasikan adalah 1-2 bulan, antara pemberian vaksin pertama dan kedua, serta 4-12 bulan, antara pemberian vaksin kedua dan ketiga (akan memberikan respons antibodi paling optimal). Atau sering disebutkan bukan ke 0, 2, dan bukan ke 6

Efektivitas vaksin dalam mencegah infeksi VHB adalah 90-95%. Memori sistem imun menetap minimal sampai 12 tahun pasca imunisasi sehingga tidak dianjurkan untuk imunisasi booster.

6. Measles, mumps, and rubella vaccine (MMR)

Imunisasi campak pada remaja diberikan berupa vaksin MMR. Pemberian vaksin MMR penting untuk wanita usia subur dan wanita hamil sehingga anak yang dilahirkan tidak menderita rubella kongenital. Vaksin ini hanya diberikan sebanyak 1 kali.

7. Vaksin Varicella

Pemberian imunisasi varicella pada remaja yang belum pernah mendapat imunisasi diberikan imunisasi 2 kali dengan jarak pemberian selama 1 bulan. Sedangkan bagi yang sebelumnya hanya mendapatkan 1 kali penyuntikan maka diperlukan pemberian kedua untuk meningkatkan imunitas. Pemberian vaksinasi ini dilakukan pada usia 7-18 tahun. Angka perlindungan yang diberikan vaksiansi ini mencapai 70 persen.

Vaksinasi Japanese Encephalitis

Japanese Encephalitis (JE) merupakan penyakit yang menyerang susunan saraf pusat (otak) yang mengakibatkan radang otak mendadak yang disebabkan oleh virus Japanese Ensephalitis. Kasus penyakit ini sempat merebak pad atahun 1990an dan menjadi wabah di Singapura dan Malaysia.

Penularan penyakit ini melalui vektor penularan dan reservoir (sumber infeksi). Vektor penularannya adalah nyamuk culex dan reservoirnya adalah babi, sapi, kuda, kera, kambing, burung dan lain-lain. Nyamuk culex merupakan nyamuk yang dapat berkembang dimana-mana seperti kolam, sawah, air genangan kandang dan lain-lain. Nyamuk ini umumnya lebih menyukai hewan sebagai mangsanya, hanya jika terjadi kepadatan culex yang tinggi menyebabkan adanya gigitan terhadap manusia dan menggigit manusia. Apabila nyamuk menggigit burung yang mengandung virus japanese enchepalitis, kemudian menggigit babi maka pada babi jumlah virus akan meningkat secara tajam. Virus akan berada pada perdaran darah babi (viremia). Penularan penyakit pada manusia terjadi apabila nyamuk yang telah menggigit babi yang sedang viremia kemudian menggigit lagi manusia.

 Gejala klinik
Penyakit ini umumnya lebih sering menyerang anak-anak. Masa inkubasi penyakit ini rata-rata 4-14 hari. Gejalanya bervariasi tergantung berat-ringannya kelainan sumsum saraf pusat, umur penderita dan lain-lain.

Perjalanan penyakitnya dibedakan menjadi 3 tahap. Pertama merupakan stadium prodormal yang berlangsung 2-4 hari, dengan gejala demam mendadak, sakit kepalam mual dan muntah.

Selanjutnya stadium akut selama 4-7 hari, dengan gejala demam yang tinggi dan sulit turun walaupun dengan pemberian obat penurun panas, otot menjadi kaku terutama pada leher. Selain itu dapat terjadi kejang-kejang, gangguan keseimbangan, penurunan  kesadaran, gelisah dan penuruna kesadaran (koma)

Terakhir merupakan stadium konvalesen atau tahap akhir. Pada tahap ini suhu tubuh akan kembali normal, tanda kelaian saraf dapat membaik maupun menetap. Pada penyakit berat dan berlangsung lama terjadi gejala sisa seperti gangguan mental berupa emosi tidak stabil, lambat berbicara, perubahan kepribadian dan lumpuh sebagian tubuh.

Pencegahan
Pencegahan terutama adalah memberantas atau memutus mata rantai penularan dengan cara mencegah gigitan nyamuk culex dan mencegah berkembangnya nyamuk culex dan larvanya. Gunakan kelambu saat tidur untuk mencegah terjadinya gigitan oleh  nyamuk culex, selain itu gunakan repellan, atau memakai obat untuk membasmi nyamuk.Selain itu disarankan untuk melakukan Gerakan Pemberansan Sarang Nyamuk (PSN) oleh warga / masyarakat sekitar.

Peternak hewan penularan lpenyakit ini hendaknya membangun konstruksi kandang yang sesuai standart untuk mengurangi kesempatan bagi nyamuk untuk bersarang, kebersihan kadang harus tetap terjaga dan memiliki sarana pembuangan air limbah.

Selain itu lakukan vaksinasi japanese encephalitis dilakukan pada hari ke 0, 7 dan 28, dilakukan booster setahun kemudian dan diulangi setiap 3 tahun. Suntikan ke 3 dilakukan minimal 7-10 hari sebelum keberangkatan kedaerah endemis. Indikasi oemberian vaksinasi diberikan pada anak usia 1-2 tahun di daerah endemis, orang yang akan berkunjung ke daerah rural Asia lebih dari sebulan, atau kurang dari sebutan, namun akan melakukan kegiatan di luar ruangan, dan pekerja laboratorium.

Mengenal Apa Itu AIDS / HIV

Hari ini tanggal 2 Desember 2013, siapa yang masih ingat, kemarin kita merayakan hari apa yah? Yap betul, kemarin tanggal 1 Desember merupakan hari AIDS yang diperingati oleh seluruh dunia.

Apa sih sebenarnya AIDS itu? AIDS merupakan singkatan dari ‘Acquired Immunodeficiency Syndrome / Acquired Immune Deficiency Syndrome’ yang menggambarkan berbagai gejala dan infeksi yang terkait dengan menurunnya sistem kekebalan tubuh. Penyebab terutamanya adalah infeksi HIV. Tingkat HIV yang tinggi akan menyebabkan beberapa kumpulan gejala dan infeksi tertentu sehingga disebut AIDS.

Lamanya perkembangan dari HIV menjadi AIDS, bervariasi pada masing-masing individu yang terinfeksi. Umumnya mencapai kisaran waktu 15-20 tahun, dan tidak menutup kemungkinan memakan waktu yang lebih pendek atau menjadi lebih panjang.

Tanda dan gejala HIV/AIDs yang terutama adalah adanya penurunan berat badan yang cepat dan tanpa sebab yang jelas, diare yang terus menerus bahkan sampai berbulan-bulan walaupun dengan pemberian berbagai macam obat-obatan, demam yang terus menerus dan sering hilang timbul, dan cepat merasa lelah.

Penularan virus HIV terutama adalah dengan melalui kontak darah. Beberapa cara penularan ialah dengan seks bebas dengan penderita HIV+, maka sangat disarankan pada pelaku seks bebas biasanya dianjurkan untuk menggunakan kondom, transfusi darah yang tercemar HIV, penggunaan jarum suntik pada pengguna narkoba, penggunaan jarum tindik dan jarum untuk pembuatan tatto yang berulang, dan penularan dari ibu yang HIV+ terhadap bayi yang dikandungnya.

Bagaimana cara mencegahnya? Yang terutama adalah menghindari seks bebas dan gunakan kondom untuk mengurangi resiko penularan. Menghindari penggunaan jarum suntik berulang, jika ingin melakukan tindik atau pembuatan tatto, lakukan pada tempat yang bersih dan steril. Hindari kontak darah dengan penderita HIV+

 

Bau Mulut yang Mengganggu

Halitosis atau yang sering kita kenal adalah bau mulut sering mengganggu. Terutama mengganggu penampilan dan kinerja kerja kita. Apa sebenarnya penyebab terutama bau mulut? Bagaimana cara mengatasinya?

Banyak orang yang menderita bau mulut kronis biasanya hal ini karena ada masalah di gigi, lidah atau gusi.  Bau mulut ini disebabkan oleh bakteri di dalam mulut, sisa makanan atau kebersihan mulut yang buruk. Gigi berlubang dan sisa makanan membentuk zat yang disebut Volatile Sulfur Compound (VSC) yang menyebabkan bau tak sedap.

Bau mulut juga bisa terjadi pada orang yang memiliki penyakit kronis seperti diabetes, gagal ginjal atau kelainan fungsi hati. Faktor lain seperti stres, tidur mendengkur, faktor usia dan hormonal juga bisa mempengaruhi bau mulut. Untuk menghindari bau mulut, sangat penting untuk menjaga kebersihan mulut secara total. Menyikat gigi teratur, menggunakan benang gigi dan menyikat lidah sangatlah penting.

Tetapi bila bau mulut masih terasa, tidak ada salahnya untuk memeriksakan diri anda ke dokter gigi secara teratur. Dokter gigi akan memeriksa apakah ada faktor – faktor lain yang bisa menyebabkan bau mulut seperti karang gigi, gigi berlubang atau gigi yang rusak.

Pembersiahan karang gigi yang dilakukan oleh dokter gigi dapat membantu pasien – pasien yang memiliki bau mulut. Penambalan gigi berlubang juga akan mengurangi terjebaknya sisa makanan di gigi yang berkontribusi besar terhadap menurunnya resijo bau mulut.

Bagaimana dengan anda? Periksakan gigi dan mulut anda segera ke dokter gigi