Klinik Trinity Medika Jakarta Pusat

Just another Blog In Harmony Clinic Sites site

Home » 2014 » January

Lindungi Anak dari Diare

Diare merupakan penyakit langganan pada balita dan anak, terutama saat musim hujan, diare menjadi momok menakutkan bagi seluruh orang tua. Diare terkesan ringan namun justru diare merupakan salah satu penyebab kematian terbesar pada balita dan anak.

Apa sebenarnya diare itu? Diare didefinisikan sebagai perubahan dari konsistensi dan frekuensi buang air besar. Buang air besar menjadi lebih sering atau konsistensi menjadi lebih cair. Pada anak sering disertai dengan mual dan muntah serta rewel. Anak menjadi sulit makan dan sering disertai demam akibat berkurangnya massa air dalam tubuh (dehidrasi). Anak sulit makan dan muntah memperparah pengeluaran cairan dalam tubuh bayi dan menyebabkan dehidrasi semakin parah yang lama-lama menyebabkan anak malas minum dan cenderung tidur. Pada konsisi ini anak menjadi semakin kritis dan sering banyak orang tua yang terlewatkan mengganggap anak yang rewel sudah tenang, sehingga dibiarkankan dan justru menyebabkan meninggal.

Bagaimana cara agar anak anda terhindar dari diare? yang terutama adalah menjaga kebersihan lingkungan dan makanan/susu yang di minum oleh bayi. Kebersihan dapat dilakukan oleh seluruh anggota keluarga dengan cara mencuci tangan sebelum makan dan setelah buang air kecil/besar. Kemudian dengan cara menjaga kebersihan lingkungan sekitar. Menyapu dan mengepel rumah secara rutin dan membuang sampah pada tempatnya. Penularan terutama diare disebabkan karena ketidakbersihan alat makan dan makanan yang tertelan oleh bayi atau anak. Alat makan dapat kita jaga kebersihannya dengan cara terutama adalah mencuci alat makan bayi dengan air bersih dan dan dengan menggunakan air yang mengalir.

Selain itu penting dilakukan vaksinasi rotavorus pada bayi. Apa fungsinya? Vaksinasi rotavirus berguna untuk mencegah penyakit diare yang disebabkan oleh rotavirus. Rotavirus merupakan virus yang sering menginfeksi bayi umumnya antara usia 4-23 bulan dan menginfeksi bagian permukaan usus halus, yang mengeluarkan racun yang merusak lapisan sel epitel / dinding usus halus, sehingga akan menyebabkan kerusakan struktur dinding usus halus dan terjadi pengeluaran virus ke dalam kotoran.

Gejala penyakit terutama adalah diare berat dengan muntah dan demam. Bahkan sering terjadi syok dan gangguan keseimbangan elektrolit. Pada beberapa penelitian menunjukkan diare yang terjadi akibat rotavirus sebanyak satu dari 3 pasien yang menderita diare dan diare yang disebabkan oleh rotavirus memiliki kondisi klinis yang lebih buruk dibandingkan dengan diare yang diakibatkan oleh virus lainnya.

Oleh sebab itu kini sangat dianjurkan untuk mendapatkan vaksinasi rotavirus untuk mencegah penyakit diare yang disebabkan oleh rotavirus. Vaksinasi rotavirus yang dianjurkan oleh IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) diberikan dengan cara per-oral / di teteskan  sebanyak 2x untuk rekombinan monovalen pada anak berusia 2 bulan dan 4 bulan dan sebanyak 3 x pada rekombinan pentavalen pada usia 2 bulan, 4 bulan dan 6 bulan. Pada rekombinan vaksin monovalen, usia minimum diberikan adalah berusia 6 minggu dan usia maksimal diberikan adalah 14 minggu 6 hari. Jarak antara vaksinasi pertama dan kedua minimal adalah 4 minggu. Dan dosis terakhir harus sudah selesai diberikan pada usia <24 minggu. Dan pada rekombinan pentavalen, dosis pertama diberikan pada usia 6-12 minggu. Jarak pemberian antara dosis pertama dan dosis kedua dan ketiga adalah 4-10 minggu. Dosis terakhir atau ketiga diberikan maksimal pada usia <32 minggu.

Pentingkah Vaksinasi untuk Traveler?

Liburan? Siapa yang tidak senang liburan? Jalan-jalan untuk menghilangkan penat dan kejenuhan selama bekerja. Persiapan juga harus matang, mulai dari dokumen, barang bawaan pribadi, keuangan, penginapan dan yang tidak ketinggalan kesehatan dan stamina kita. Bagaimana dengan kesehatan kita nanti disana? Apa sajakah yang perlu diperhatikan selama bepergian?

Terkadang kita lupa bahwa bepergian memiliki banyak resiko terserang berbagai macam penyakit di tempat tujuan. Mulai dari kebiasaan hidup yang mungkin berlainan, kebersihan tempat yang akan didatangi, makanan yang berbeda dengan yang selama ini dimakan dan penyakit yang sering menyerang masyarakat disana. Apa yang harus kita persiapkan untuk menghadapi hal tersebut?

Yang terutama adalah kita wajib membawa obat-obatan pribadi untuk berjaga-jaga jika terjadi kejadian yang tidak diinginkan dan mengalami kesulitan mencari obat didaerah tujuan tersebut. Kemudian kita perlu untuk membawa vitamin yang berguna untuk menjaga daya tahan tubuh kita selama perjalanan. Selain itu saat ditempat tujuan penting juga kita untuk memilih makanan yang sehat dan bergizi sehingga mengurangi resiko sakit saat bepergian.

Selain itu, perlu juga melakukan vaksinasi sebelum melakukan perjalanan. Terutama jika bepergian ke negara atau daerah dengan angka kejadian penyakit tertentu tinggi. Seperti bepergian ke daerah Afrika yang memiliki angka kejadian penyakit yellow fever yang tinggi, maka di wajibkan untuk menerima vaksinasi yellow fever sebelum berangkat ke Afrika. Atau jika bepergian ke daerah yang padat penduduk dan memiliki kebersihan yang kurang, disarankan untuk menerima vaksinasi hepatitis A dan vaksinasi tifoid, untuk mencegah terjadinya penyakit hepatitis A dan penyakit tifoid yang berhubungan erat dengan penularan melalui makanan dan kebersihan yang buruk. Oleh karena itu sangat disarankan bagi para traveler untuk menerima vaksinasi yang sesuai dengan daerah tujuan untuk mencegah sakit di tempat tujuan atau bahkan membawa penyakit tersebut masuk ke negasa asal atau daerah asal traveler.

Cegah Influenza Selama Musim Hujan

Musim hujan telah tiba. Musim hujan identik dengan udara yang dingin dan hujan yang bisa tiba-tiba datang. Selain itu musim hujan selalu identik dengan influenza. Udara yang dingin dan hujan yang bisa turun tiba-tiba menyebabkan kondisi kesehatan seseorang akan terganggu dan menyebabkan flu. Tak hanya anak kecil, orang dewasa pun tak sedikit yang sakit. Influenza sendiri sangat mengganggu aktivitas dan pekerjaan kita dan mengganggu rencana yang telah kita susun.

Berikut tips yang dapat kita lakukan untuk mencegah influenza selama musim hujan:

1. Menyediakan payung atau jas hujan

Karena hujan yang tiba-tiba turun mendadak, sangat diperlukan payung atau jas hujan bagi para pejalan kaki dan para pengendara motor roda dua. Payung dan jas hujan diperlukan agar tidak langsung kehujanan sehingga menyebabkan resiko terserang influenza.

2. Jaga asupan makanan sehat

Hujan membuat orang malas makan. Tetap makan bergizi dan berimbang sehingga tubuh tidak mudah sakit dan stamina tetap terjaga

3. Tidur yang cukup

Tidur akan mengembalikan kondisi tubuh dan memulihkan stamina. Sehingga ada baiknya tidur yang cukup 8 jam sehari akan meningkatkan stamina tubuh.

4. Minum vitamin

Perbanyak makan sayur dan buah-buahan yang banyak mengandung vitamin atau konsumsi suplement vitamin untuk mencukupi vitamin yang berimbang. Vitamin akan membantu meningkatkan daya tahan tubuh dan menurunkan resiko terserang influenza.

5. Vaksinasi

Vaksinasi influenza diberikan untuk mencegah terjadinya sakit influenza dan menjaga kekebalan tubuh terhadap virus influenza yang banyak di sekitar kita. Vaksinasi influenza dianjurkan sebanyak 1 kali pertahun.

 

 

Mengenal Mantoux Test Lebih Dalam

Mantoux test atau yang lebih sering dikenal dengan nama uji tuberkulin / tuberkulin skin test merupakan salah satu alat diagnostik yang memiliki sensitivitas dan spesifitas yang cukup tinggi untuk mendiagnosis infeksi tuberkulosis. Dengan hanya hasil test mantoux tidak dapat langsung menegakkan diagnosis TBC karena hasil test ini kadang memberikan hasil negatif palsu atau positif palsu. Hasil mantoux harus didukung dengan keluhan, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang; seperti laboratorium dan test sputum.

Test mantoux biasa dilakukan pada bayi baru lahir atau pada anak dengan gejala atau pada anak dengan memiliki keluarga yang TBC aktif. Pada bayi yang baru dilahirkan umumnya mantoux test dilakukan bila saat mengandung si ibu menderita TBC dan bisa saja bayi akan terkena TBC begitu dilahirkan. Pemeriksaan dilakukan pada usia sekitar 1 bulan atau diatas 1 bulan.

Lokasi penyuntikan umumnya di pertengahan bagian atas, lengan bawah kiri bagian depan. Penyuntikan dilakukan secara intrakutan (kedalam kulit) dan untuk memastikan ada atau tidaknya infeksi kuman TBC akan dilihat indurasinya setelah 48-72 jam setelah penyuntikan. Indurasi ditandai dengan bentuk kemerahan dan benjolan yang muncul di area sekitar suntikan. Bila indurasi 0-4 mm maka hasil dinyatakan negatif atau tidak terdapat infeksi kuman tuberkulosis. Bila indurasi 5-9 mm maka nilai meragukan dan bila indurasi di atas 10 mm maka dinyatakan positif terinfeksi kuman tuberkulosis.

Jika hasil mantoux dinyatakan positif, tetap dibutuhkan pemeriksaan lainnya untuk memastikan infeksi kuman tuberkulosis, seperti rontgen dan kondisi klinis yang menunjang. Kondisi klinis yang terjadi seperti adanya masalah berat badan yang turun atau menetap namun tidak sesuai dengan usia dan anak menjadi sulit makan, anak menjadi lemah dan lesu serta mudah sakit, sering disertai dengan batuk berulang dan lebih dari 2 minggu serta sering terdapat benjolan pada kelenjar getah bening leher samping dan diatas tulang selangkangan.

Jika test mantoux dinyatakan positif atau indurasi lebih besar dari 10 mm, kemungkinan perlu kita pikirkan adanya ninfeksi tuberkulosis atau infeksi TB termasuk TB laten, Tb aktif atau pasca terapi TB, atau pernah mendapat imunisasi BCG.

Jika hasil uji Mantoux, indurasi di atas 5 mm, dapat dipertimbangkan positif atau terjadi anergi (indurasi yang tidak timbul) pada pasien tertentu seperti : pasien dengan infeksi HIV, pasien dengan imunosupresan jangka panjang seperti konsumsi kortikosteroid, pasien dengan gizi buruk, pasien dengan infeksi virus, dan pasien sakti berat seperti TB milier atau meningitis TB

 

 

Reaksi Setelah Vaksinasi BCG

Tentunya banyak ibu-ibu yang khawatir dengan anaknya yang justru setelah vaksinasi timbul kemerahan dan bengkak pada daerah suntikan, bahkan tidak sedikit yang terdapat nanah pada bengkak tersebut. Sering dipikiran akan terlintas “apakah sang dokter salah menyuntik?”, “mengapa setelah vaksinasi malah sakit”, atau bahkan “obat yang disuntikkan salah/kadarluwasa”.

Dapat dijelaskan terdapat beberapa reaksi yang terjadi setelah vaksinasi BCG, yang paling sering terjadi atau yang dikenal dengan nama reaksi lokal akan menimbulkan reaksi kemerahan dan pembengkakan pada area bekas penyuntikan dan setelah 2-3 minggu kemusian akan terdapat nanah yang kemudian akan menjadi luka terbuka (ulkus) dan lambat laun akan menjadi sembuh dalam waktu 8-12 minggu membentuk jaringan parut pada tempat yang telah disuntikkan.

Selain itu terdapat reaksi regional dengan ciri  pembengkakan di kelenjar limfe, seperti leher atau ketiak, tanpa disertai nyeri tekan maupun demam, yang akan menghilang dalam waktu 3-6 bulan.

Reaksi tersebut merupakan raksi yang wajar dan sering terjadi pada anak sesudah mendapatkan vaksinasi BCG

Selain itu ada pula komplikasi yang sering terjadi setelah vaksinasi BCG. Komplikasi yang timbul adalah : pembentukan abses (penimbunan nanah) di tempat penyuntikan. Hal ini terjadi karena umumnya tempat penyuntikan yang terlalu dalam. Abses ini akan menghilang secara spontan, dan sering terjadi Limfadenitis supurativa, yang terjadi jika penyuntikan dilakukan terlalu dalam atau dosisnya terlalu tinggi. Keadaan ini akan membaik dalam waktu 2-6 bulan.

Vaksin BCG : Mencegah TBC

Vaksin BCG untuk lindungi anak dari TBC berat

Pernah dengar vaksinasi BCG? Atau yang sering dikenal dengan sebutan vaksinasi tuberculosis/TBC. Apa fungsi vaksinasi ini? Mengapa vaksinasi ini wajib diberikan dan dijadikan program vaksinasi wajib pemerintah?

Vaksinasi BCG merupakan vaksinasi beku dan kering yang mengandung bakteri Mycobacterium bovis hidup yang sudah dilemahkan. Vaksinasi ini diberikan untuk memberikan kekebalan aktif terhadap tuberkulosa dan mencegah penyakit TBC. Jika pasien yang telah divaksinasi terkena TBC, diharapkan penyakit TBCnya tidak menjadi penyakit TBC berat atau yang sering dikenal dengan TBC tulang atau meningitis TBC.

TBC merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium bovis yang menyerang saluran pernapasan dan menyebabkan penderitanya batuk terus menerus dan menjadi kurus bahkan tidak sedikit dapat menyebabkan kematian. Penyakit TBC menurlar melalui dahak penderita yang berisi bakteri tersebut dan menyerang orang yang sehat. Umumnya penyakit ini lebih banyak insidennya pada daerah yang padat penduduk.

Vaksin BCG dianjurkan agar diberikan kepada bayi saat berusia 1-3 bulan. Apabila bayi telah berusia diatas 3 bulan, maka akan dilakukan uji tuberculin/ mantoux test. Mantoux test merupakan uji sensitivitas terhadap mikrobakteria. Imunisasi BCG dilakukan satu kali saja, dengan pemberian pada deltoid kanan. Setelah dilakukan imuniasasi ini akan timbul antibodi yang cukup tinggi sehingga akan mengahsilkan bisul kecil yang akan bernanah dan meninggalkan parut pada kulit. Parut merupakan keberhasilan vaksinasi BCG.